Hargai Waktumu
Apa kalian tahu sesuatu paling berhaga di dunia?
Berlian?
Mobil Ferrari?
Semuanya salah
Hal yang paling berharga di dunia adalah waktu
Bukah suatu benda kasat mata yang membuat semua orang ingin memilikinya
Rasany jika meliki benda itu kastanya naik beberapa tingkat dari sebelumnya
Waktu, banyak orang di dunia ini yang menyia-nyiakan waktu
Berleha-leha, berjam-jam memainkan smartphone mereka
Waktu tak bisa terulang hari ini akan menjadi masa lalu
Banyak pula orang yang menyesali masa lalu
Tak mempergunakan waktunya sebaik mungkin
"ah seandainya aku dulu lebih rajin"
"ah seandainya dulu aku nggak kayak gitu"
Percayalah penyesalan selalu berada diakhir
Hargai waktumu
Tiap-tiap orang memiliki batas waktunya masing-masing
Selagi masih muda pergunakan waktumu mempeluas wawasan dan pengalaman
Lakukan hal yang mungkin tak dapat kau lakukan jika sudah berkeluarga nanti
Selagi menjadi mahasiswa maanfaatkanlah statusmu untuk mencoba hal-hal yang bisa kau lakukan menjadi mahasiswa
Exchange keluar negeri atau internship di perusaan impian misalnya
Dan masih banyak lagi
Tulisan ini juga menjadi nasihat bagi penulis untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya
Karna hari akan menjadi masa lalu
Jalani harimu dengan penuh manfaat
#NulisRandom2017 #Day7
Read User's Comments(0)
Saat Kau Jatuh Cinta
'saat kau sedang jatuh cinta, kau tak menjadi dirimu sendiri'
Ada ungkapan seperti
Entah apa benar hal itu terjadi pada semua orang
Saat sedang bersamanya
Yang biasanya banyak bicara dan jahil bisa mendadak mati kutu
Bingung harus memulai pembicaraan dari mana
Untuk sekedar menyapanya saja pun aku tak mampu
Padahal biasanya kami akrab
Saat Ia mengajakku , padahal hatiku berkata "Ayo" tapi yang terlontar dari mulutku berbeda
Saat teman-teman mulai menggodaku, aku mulai mengelak
Yang bisa kulakukan hanya lari
Trauma dari masa lalu sepertinya membuatku seperti ini
Sulit mengakui perasaan sendiri
Kadang rasanya lebih baik tak menyadari perasaan itu
Supaya semua bisa berjalan seperti biasanya
Kuputuskan menata hatiku kembali
Kuserahkan hatiku pada pemilik hati ini, sang pencipta
Dia lah yang memutar balikan perasaan ini
#NulisRandom2017 #Day4
Keluarga Hura-hura Sumkid (2/?)
Cerita ini buat berdasarkan kisah nyata dengan sedikit bumbu penyedap. Kesamaan nama tokoh di dunia nyata memang disengaja.
#NulisRandom2017 #Day3
JJP (Jalan-jalan pagi)
Ini kisah hari minggu pertama semenjak kedatangan keluarga
besar Opah Lutfi. Warga desa sumub kidul sangat terkenal dengan keramahannya.
Terutama anak-anaknya. Dengan antusias mereka mendatangi rumah keluaga besar
itu sekedar menyapa dan juga mengajak main. Sayang cucu-cucu omah Aul tak
semuanya senang bermain diluar bermadikan cahaya matahari. Takut kulit gosong
lah, capek lah. Mereka lebih senang mendekam dalam rumah bermain gadget.
Tak tega melihat bocah-bocah itu, omah Aul mencoba membaur
dengan mereka. Dan tak diragukan lagi, hidup puluhan tahun membesarkan
anak-anak dan cucu-cucunya. Bocah-bocah itu mulai nyaman dengan Omah. Sebagai
pensiunan bidang kesehatan Omah mencoba menularkan budaya hidup sehat pada
bocah-bocah itu.
“Ada 7 langkah cara
cuci tangan, mulai dari depan hingga kebelakang”
Lagu itu tak henti-hentinya di dengungkan tiap harinya jika
bocah-bocah itu datang.
Hari itu setelah selesai bernyanyi bersama omah. Salah satu
anak berumur 5 tahun dengan gigi ompong mengajukan sebuah undangan terbuka.
Namanya Eza.
“Omah Aul, nanti minggu pagi jalan-jalan keliling desa yuk”
Ucapnya sambil memamerkan giginya yang tak utuh lagi. Yang ditanya hanya bisa
mengembangkan senyum lebar. Bukan tanpa alas an Omah tak menjawab cepat. Ia tahu
persis tabiat keluarga besarnya. Hampir semuanya terkena penyakit mager alias
malas gerak. Namun disisi lain ia tak mau membuat bocah-bocah ini kecewa.
“Nanti coba di omongin ke yang lain dulu ya” Bocah itu
menggangguk mengerti dan langsung kembali kerumahnya.
***
Hari yang dijanjikan pun tiba. Langit pagi itu di penuhi
dengan awan hitam. Tepat setelah salam sholat shubuh bocah-bocah itu memanggil
dari luar.
“omah Aul!!”
“Iya-iya sebentar”
Setelah berdiskusi sebentar dengan teman sekamar sekaligus
anak-anaknya. Dhafina dan Ghina ikut menemani. Dengan baju apa adanya bekas
tidur tadi malam. Terlalu malas mengganti pakaian dan memoles wajah. Mereka
memulai perjalanan mereka dari jalan setapak kecil depan rumah. Mengikuti
aliran sungai kecil itu. Bocah-bocah itu berjalan bergerombol, mengitari Omah
Aul. Sambil mendendangkan lagu-lagu anak
mereka berjalan riang mengelilingi desa.
Hamparan karpet hijau sejauh mata memandang. Aliran sungai
kecil berdampingan dengan jalan setapak. Semalam turun hujan rupanya beberapa
lubang di jalan digenangi air coklat bercampur tanah. Baru belasan meter
berjalan mereka melihat pemandangan tak bisa di dam aliran sungai. Seorang pria
tua dengan santainya jongkok disana membayar setoran rutinnya. Dan lelaki tua
itu dengan santainya menatap jalan. Mereka bertiga saling melempar pandangan
bingung harus bagaimana.
“Pura-pura nggak liat aja” Mereka pun akhirnya memutuskan
seperti itu.
Setelah di telusuri lewat wawancara dadakan kepada
bocah-bocah itu. Warga desa ini memang punya kebiasaan setor harian di aliran
sungai kecil. Tak hanya yang rumahnya berada di pinggiran kali kecil itu.
Bahkah ada yang rela datang jauh-jauh demi melaksanakan kewajibannya.
Tak terasa kini mereka menginjak jalanan beraspal. Namun
jalanan yang berlubah cukup besar cukup mengganggu. Was-was saat ada kendaraan
lewat, takut kecipratan. Maklum stok baju sudah menipis. Meskipun tak banyak
peluh mulai merembes dari pori-pori kulit mereka.
4 anak perempuan yang dengan pakaian kembar tapi tak sama berjalan
berjejer di barisan paling depan. Lagi-lagi mereka kompak membuka jaketnya, merasa
kepanasan sepertinya. Dan lagi-lagi 3 orang dewasa itu kembali terkejut melihat
tulisan di punggung 4 bocah itu.
“Eh ciyee kok kalian kompakan sih kayak, gilrband korea aja
bajunya” Ke-4 bocah itu hanya cengar-cengir tanpa komentar.
“itu di belakangnya tulisannya beda-beda, dipilihin?”
“nggak kok kita milih sendiri”
“kalian maksud tulisan dipunggung kalian nggak?” Mereka
hanya cengar-cengir entah apa maksudnya. Malu karna tak tahu, atau sebaliknya.
Ke-3 orang dewasa itu mengelus dada. Bocah-bocah SD jaman
sekarang cepat puber ternyata. Dan sepertinya mereka juga sudah punya tambatan
hati masing-masing. Meskipun hanya dalam status ‘ledek-ledekan’. Bahkan salah
satu dari mereka keceplosan berbicara pernah melihat film dewasa.
Masa kecil yang penuh kepolosan dan rasa penasaran
tersalurkan pada hal yang salah. Zaman telah berubah. Entah siapa yang harus
disalahkan, pendidikan? Tontonan tv? Orangtua? Lingkungan?. Takkan ada habisnya
jika saling menyalahkan. Sebagai generasi peneruh bangsa itu adalah tugas berat kita untuk meluruskan semuanya.
~to be continue~
Keluarga Hura-hura sumkid (1/?)
Cerita dibawah ini terinspirasi oleh kehidupan 42 hari di kkn. Ku tulis supaya suatu hari nanti aku akan membacanya dengan senyum yang merekah lebar, mengingat masa-masa itu. Menulis kisah ini salah satu cara untuk mengabadikannya.
Keluarga Hura-hura sumkid
Alkisah hidup keluarga besar nan bahagia di sebuah desa nun
jauh disana. Untuk mencapai sana kau harus melewati panasnya aspal jalan
pantura. Kemudian kau harus melewati jalanan berbatu dengan sawah yang luas di
kanan dan kiri jalan. Desa Sumub Kidul lebih dikenal Sumkid warganya tak lebih
dari 3ribu jiwa. Dengan pemasukan dana terbesar dari industry konveksinya yang
sudah meraja lela. Baju, celana dan lainya produksi Sumkid sudah tersebar ke
seluruh Indonesia di darat maupun bawah laut. Rumah keluarga Hura terletak
persis disebelah rumah bu lurah. Ingat bu lurah bukan pak lurah. Halaman rumah
keluarga Sumkid cukupluas. Biasa digunakan bocah-bocah sekitar rumah untuk
bermain sepeda, petak umpet, layang-layang hingga berenang bila hujan tiba.
“Opah beliin es krim ya” Tunjuk bocah mungil itu sambil
menujuk es krim. Sang lelaki tua disebelahnya hanya tersenyum simpul sambil
menggangguk.
“Udah ambil aja semua Yuyun yang mau, kebetulan Opah mau
mecahin uang” Bocah itu langsung sumringah. Bergegas ia meraup banyak es krim
dan beberapa snack favoritnya.
“Udah bu berapa ya?”
“semuanya 585.518.915”
“Oke bentar ya bu”
Cranggg
Celengan ayam itu pecah menabrak lantai. Kepingan-kepingan
uang itu berhamburan memenuhi lantai warung. Sang Cucu dan pemilik warung hanya
bisa melengos kesal. Beneran mecahin toh rupannya.
Oke berlajut pada mahluk-mahluk yang berada dirumah. Diruang
tamu tumpukan tissue menggunung, siapa lagi bila bukan Istri Opah, Omah Aul. Di
usiannyayang sudah senja ini,hatinya begitu sensitive. Terlebih bila menyangkut
anak sulungnya yang masih bujang. Padahal harusnya ia bahagia karna akhirnya
Ojan anak kesayangannya menemukan gadis idamannya. Seperti memiliki son-complex
sang Ibu tak rela anak kesayangannya itu memiliki tambatan hati. Ia hanya ingin
anak sulungnya hanya mencintai ibunya seumur hidupnya.
“Udah lah mah, iklhasin Ojan mah biar dia bahagia” hibur
Dhafina anak perempuannya. Sang Ibu mengangguk menguatkan hatinya.
“Haha, kamu kapan pulang? aku kangen” Ojan sang putra sulung
tiba-tiba keluar dari kamar dengan air muka bahagia. Tanpa menggunakan atasan
ia sibuk bervideo call dengan pujaan hati. Salah satu hobinya memang memamerkan
otot-otot lengannya.
“Hiks, HUWEEE” tangis sang Ibu kembali pecah. Dhafina
mengelus dadanya pelan bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghibur
Ibunya.
“Oh my god” Calvin sang putra bungsu kaget melihat tumpukan
tisu yang memenuhi ruangan, sial ia piket hari ini.
Kita berpindah ke depan kamar mandi. Seorang wanita cantik
yang masih lengkap dengan masker hitamnya mengambil handuk hendak mandi. Rencananya
ia akan jalan-jalan ke kota bersama pacarnya hari ini. Jadi ia harus tampil
cantik. Tapi sebelum handuk biru itu berada di genggamannya seseorang
menahannya.
“ih kakak! ini handuk aku! aku juga mau mandi” Protes bocah bongsor dengan rambut ala Goo Jun Pyo.
“Adekk, punya kakak basah pinjem dulu lah”
“Ih nggak mau nanti handuknya jadi item kayak muka kakak”
“Eh tadi bilang apa?! berani ya ama kakak” Aksi rebutan
handuk itu pun berlangsung sengit. Sang adik Oji tak mau kalah dari kakaknya
Ratel. Ia juga harus cepat mandi lalu ke balai desa. Bukan untuk mengurus
surat-surat. Bukan pula untuk membantu perangkat disana. Tapi ada film baru
yang harus ia donlot. Numpang wifian. Aksi cakar-cakaran jambak-jambakan tak
terelakan lagi. Beberapa property rumah ikut hancur karna perang saudara itu.
Sang Ibu yang sedang meyiapkan makan siang di dapur tak bisa melerainya. Ia
sedang sibuk dengan Ayam gorengnya. Selain itu ia juga agak malas mereka berdua
memang selalu seperti itu.
“Celly itu tolong pisain mereka gih, Aunty lagi sibuk”
Peritahnya pada keponakannya yang sedang sibuk mengulek bumbu.
“Haha merica bentuknya lucu ya bullet-bulet gitu” Entah apa
yang salah dengan kabel komunikasi gadis cantik itu. Untuk informasi ia sedang
jatuh cinta pada mas-mas penjual merica yang sering datang kerumah.
“Celly!” merasa tak sabar Auntynya mengguncang bahu gadis
itu.
“Eh kenapa budhe Ghina”
“Itu tolong pisahin mereka”
“ih nggak mau ah Budhe nanti aku ikutan lecet-lecet”
“Hemm yaudah, bangunin bapaknya tolong ya mereka kalo ama
bapaknya nurut soalnya”
“Loh kok aku?!”
“Aunty sibuk”
Gadis itu pun menurut. Meskipun nalarnya tak bisa menerima.
Budhe dan Pakhenya tak pernah terlihat mesra meskipun mereka suami istri.
Berbeda dengan Opahnya yang selalu perhatian pada Omahnya. meskipun sang omah
hanya bisa melihat anak sulungnya Ojan. Seandainya gadis itu juga punya Ayah,
seperti apa ya ayahnya itu. Apa ayahnya perhatian dan selalu mesra dengan
ibunya Dhafina. Sayangnya Ia dan adiknya lahir berkat keberuntungan sang ibu.
Saat membeli snack yang ada gosokannya. Ibunya mendaatkan anak yang cantik
jelita. Tak berselang waktu lama dengan cara yang sama gadis itu memiliki
seorang adik.
Seonggok mahluk tergeletak di kasur hijau diruang tengah. Lelaki kurus itu berbaring tak bergerak. Dengan pose tidur yang sangat tidak keren sukses membuat seisi kasur berantakan. Bantal-bantalnya merjatuhan dilantai.
“Pakdhe bangunnn!!” Lelaki itu tak merespon. Hanya suara
dengkuran menandakan tidurnya lelap.
“Pakdhe!!” gadis itu tak sabar mengguncang-guncang tubuh
Pakdhenya.
“PAKDHE AZIZZZ!!” Merasa tak sabar gadis itu memakai toa
yang dipinjam dari pak RT. Tapi sayangnya lelaki itu masih tak merespon. Sebagai
mahluk nocturnal pakdhenya itu cukup ajaib. Tapi jangan salah bila sudah bangun
pakdhenya bisa menjadi sangat produktif. Hal apapun bisa dilakukan olehnya. Dan
lelaki ini adalah lelaki yang bisa diandalkan dikeluarga ini selain sang anak
sulung.
Kretekkkretekk
Suara retakan tembok itu terdengar dengan jelasnya. Perang saudara itu
ternyata masih berlangsung sengit membuat tembok penghubung kamar depan retak.
Celly hanya bisa memijat-mijat pelipisnya. Keluarga Pakdhenya memang
benar-benar ajaib.
Inilah awal dari keluarga aneh bin ajaib, keluarga Hura-Hura Sumkid.
~to be continue~
Tulisan ini juga ku buat buat challenge diri buat nuli 30hari penuh
Semangat!!
#NulisRandom2017 #Day2
Tulisan ini juga ku buat buat challenge diri buat nuli 30hari penuh
Semangat!!
#NulisRandom2017 #Day2
yume
08.35 |
Label:
#curhat sesion
‘Jika kau selalu percaya, mimpimu akan terkabul’
Aku sedikit terenyuh melihat tulisan ini saat menonton video
dokumenter Idolaku. Mimpi? Pasti tiap orang memilikinya. Misal yang paling umum
buat muslim, pengen pergi haji. Pengen jadi presiden, jadi polisi dan
seterusnya. Besok pengen buka puasa makan bakso pun salah satu dari mimpi yang
paling sederhana.
Kalau ditanya apa mimpiku. Ada banyak pengen jadi pengusaha
lah, interpreter lah, tapi mimpi terbesarku dan ingin kuraih dalam waktu dekat
yaitu pergi ke Jepang. Dan 1 hal yang pengen kulakuin begitu sampai disana
yaitu nonton konser idolaku. Mungkin orang-orang berfikir itu konyol. Namun aku
sudah berada ditengah perjalanan meraih mimpi itu. Sebagai orang Indonesia yang
luar biasa mengidolakan Japanese idol
aku cuma bisa gigit jari. Mereka jarang sekali tour keluar negeri terutama
Indonesia.
Hal pertama yang kulakukan yaitu mengambil jurusan Sastra
Jepang. Meskipun aku menempatkan jurusan itu dipilihan keduaku. Namun aku sudah
menetapkan hatiku untuk belajar bahasa jepang di universitas apapun yang
terjadi. Dengan masuk jurusan sastra jepang, makin lebar pula kesempatan kesana
pikirku saat itu. Namun untuk mendapatkan beasiswa gratis kesana bukanhal yang
mudah. Aku bukan tipe yang unggul dalam pelajaran. Beasiswa berbayar? Aku tak
tega membebani orang tua dengan biaya yang cukup berat.
Dan inilah aku sekarang. Langkahku terhenti disini. Bingung harus
melangkah kemana. Aku lalu menyibukan diri dengan kegiatan lain. Di saat
penghujung statusku sebagai mahasiswa pun aku menyibukan diri magang menjadi
salah satu staff pegajar di sebuah LPK. Dan harus aku akui aku bukanlah tipe
orang yang bisa fokus dalam beberapa hal. Aku mulai terlena pada mimpiku yang
lain dan tak fokus. Dan hasilnya tak ada yang berhasil. Setahun tak belajar
bahasa jepang di kelas membuat kemampuanku makin berantakan. Revisi skripsi pun
ikut terbengkalai.
Kini aku kembali bediri di persimpangan hidupku. Sebelum memilih
kemana berjalan aku harus melewati 1 rintangan, skripsi. Aku harus
menyelesaikannya. Sambil terus belajar mengasah bahasa Jepangku dan belajar
jadi pengajar yang baik. Dengan banyak menerjemahkah dan mungkin berbicara.
Dalam mengajar kurasa aku harus disiplin. Terutama pada murid yang bandel suka
menggoda gurunya sendiri. Aku yakin suatu hari hal ini akan bermanfaat
nantinya.
Tahap selanjutnya aku harus memilih 3 persimpanganku, Kuliah
s2? Kerja? Kerja di jepang?. Kupikir aku akan memlilih pilihan ke 3. Salah satu
cita-citaku adalah menjadi penterjemah. Namun belum memiliki cukup keberanian,
bahasa jepangku belum seberapa. Dengan pergi dan bekerja di jepang aku bisa
mempraktekan sendiri bahasa yang sudah kupelajari 4 tahun belakangan. Dan uang
hasil bekerja bisa kupakai untuk pergi ke konser idolaku. Haha maafkan mimpi
konyolku.
Mungkin dalam menyusuri jalan yang sudah kupilih itu akan
banyak rintangan dan godaan, tapi selam kau mempercayai mimpimu tak apa. Suatu
hari kau pasti sampai ke tempat tujuanmu. Aku percaya itu.
#NulisRandom2017 #Day1
#NulisRandom2017 #Day1
Langganan:
Postingan (Atom)










