ghee na chan. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Mencoba Berlapang Dada



Hari ini aku belajar
Tuhan itu maha membolak balikan hati seseorang
Pagi tadi kulalui hariku dengan damai
Bangun tidur setelaerimah solat shubuh kugunakan waktuku untuk membaca buku yang baru
Siang harinya aku dibuat konyol karena perilakuku sendiri
Aku menemui dosen pembbingku hendak berkonsultasi
Dan revisi yang sudah kukumpulkan salah total
Aku salah menangkap maksud dosenku
Aku benar-benar merasa konyol
Tak merasa sedih aku malah menertawai diriku sendiri
Lalu hariku kulajukan untuk mengecek nilai TOEFLku
Rasa bahagiaku tak bisa kubendung lagi skorku naik diluar ekspetasiku
Tanpa hitungan menit bahagiaku berubah jadi cemas
Saat hendak memotret papan pengumuman untuk mengabari temanku yang lain
Aku tak bisa menemukan smartphoneku
Kucoba menenangkan diri dan menggeledah tasku
Hasilnya nihil
Terakhir aku memaikannya saat menunggu temanku di depan parkiran minimarket
Jaraknya puluhan kilometer dari tempatku berada
Ingin kembali, tapi aku tak bisa terlalu jauh terlebih harus melewati jalanan super macet
Ditelfon pun nomornya tak aktif
Kuputuskan untuk menyelesaikan urusanku dahulu
Mengantar temanku membeli buku
Selama perjalan pulang batinku berkonflik
Apa yang harus kulakukan jika benar-benar hilang? aku tak memiliki ponsel lagi
Tak mungkin aku meminta ibuku membelikan yang baru
Usiaku sudah dewasa harusnya aku bisa menyisihkan uangku untuk hal mendadak seperti ini
Tapi tabunganku habis

Setelah lama merenung aku akhirnya mulai bisa berlapang dada
Mungkin tuhan sedang cemburu, karena sebagian besar waktuku kugunakan dengan smartphoneku
Mungkin ini peringatan atas nikmat dari tuhan yang selama ini kunikmati sendiri, tanpa membagikanya pada yang berhak
Mungkin smartphoneku diambil supaya aku lebih fokus pada hal lain
Mungkin? mungkin?
Sebisa mungkin aku tetap berbaik sangka
Berusaha melapangkan dadaku dan mengiklaskannya
Nanti dapat yang lebih bagus, pakai uang sediri lagi. Pikirku.

#NulisRandom2017 #Day8

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hargai Waktumu



Apa kalian tahu sesuatu paling berhaga di dunia?
Berlian?
Mobil Ferrari?
Semuanya salah
Hal yang paling berharga di dunia adalah waktu
Bukah suatu benda kasat mata yang membuat semua orang ingin memilikinya
Rasany jika meliki benda itu kastanya naik beberapa tingkat dari sebelumnya

Waktu, banyak orang di dunia ini yang menyia-nyiakan waktu
Berleha-leha, berjam-jam memainkan smartphone mereka
Waktu tak bisa terulang hari ini akan menjadi masa lalu

Banyak pula orang yang menyesali masa lalu
Tak mempergunakan waktunya sebaik mungkin
"ah seandainya aku dulu lebih rajin"
"ah seandainya dulu aku nggak kayak gitu"

Percayalah penyesalan selalu berada diakhir
Hargai waktumu
Tiap-tiap orang memiliki batas waktunya masing-masing
Selagi masih muda pergunakan waktumu mempeluas wawasan dan pengalaman
Lakukan hal yang mungkin tak dapat kau lakukan jika sudah berkeluarga nanti
Selagi menjadi mahasiswa maanfaatkanlah statusmu untuk mencoba hal-hal yang bisa kau lakukan menjadi mahasiswa
Exchange keluar negeri atau internship di perusaan impian misalnya
Dan masih banyak lagi

Tulisan ini juga menjadi nasihat bagi penulis untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya
Karna hari akan menjadi masa lalu
Jalani harimu dengan penuh manfaat

#NulisRandom2017 #Day7

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Saat Kau Jatuh Cinta


'saat kau sedang jatuh cinta, kau tak menjadi dirimu sendiri'

Ada ungkapan seperti
Entah apa benar hal itu terjadi pada semua orang

Saat sedang bersamanya
Yang biasanya banyak bicara dan jahil bisa mendadak mati kutu
Bingung harus memulai pembicaraan dari mana
Untuk sekedar menyapanya saja pun aku tak mampu
Padahal biasanya kami akrab
Saat Ia mengajakku , padahal hatiku berkata "Ayo" tapi yang terlontar dari mulutku berbeda
Saat teman-teman mulai menggodaku, aku mulai mengelak
Yang bisa kulakukan hanya lari

Trauma dari masa lalu sepertinya membuatku seperti ini
Sulit mengakui perasaan sendiri

Kadang rasanya lebih baik tak menyadari perasaan itu
Supaya semua bisa berjalan seperti biasanya

Kuputuskan menata hatiku kembali
Kuserahkan hatiku pada pemilik hati ini, sang pencipta
Dia lah yang memutar balikan perasaan ini


#NulisRandom2017 #Day4



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keluarga Hura-hura Sumkid (2/?)

Cerita ini buat berdasarkan kisah nyata dengan sedikit bumbu penyedap. Kesamaan nama tokoh di dunia nyata memang disengaja. 

#NulisRandom2017 #Day3

JJP (Jalan-jalan pagi)



Ini kisah hari minggu pertama semenjak kedatangan keluarga besar Opah Lutfi. Warga desa sumub kidul sangat terkenal dengan keramahannya. Terutama anak-anaknya. Dengan antusias mereka mendatangi rumah keluaga besar itu sekedar menyapa dan juga mengajak main. Sayang cucu-cucu omah Aul tak semuanya senang bermain diluar bermadikan cahaya matahari. Takut kulit gosong lah, capek lah. Mereka lebih senang mendekam dalam rumah bermain gadget.

Tak tega melihat bocah-bocah itu, omah Aul mencoba membaur dengan mereka. Dan tak diragukan lagi, hidup puluhan tahun membesarkan anak-anak dan cucu-cucunya. Bocah-bocah itu mulai nyaman dengan Omah. Sebagai pensiunan bidang kesehatan Omah mencoba menularkan budaya hidup sehat pada bocah-bocah itu.

“Ada 7 langkah cara cuci tangan, mulai dari depan hingga kebelakang”

Lagu itu tak henti-hentinya di dengungkan tiap harinya jika bocah-bocah itu datang.
Hari itu setelah selesai bernyanyi bersama omah. Salah satu anak berumur 5 tahun dengan gigi ompong mengajukan sebuah undangan terbuka. Namanya Eza.

“Omah Aul, nanti minggu pagi jalan-jalan keliling desa yuk” Ucapnya sambil memamerkan giginya yang tak utuh lagi. Yang ditanya hanya bisa mengembangkan senyum lebar. Bukan tanpa alas an Omah tak menjawab cepat. Ia tahu persis tabiat keluarga besarnya. Hampir semuanya terkena penyakit mager alias malas gerak. Namun disisi lain ia tak mau membuat bocah-bocah ini kecewa.

“Nanti coba di omongin ke yang lain dulu ya” Bocah itu menggangguk mengerti dan langsung kembali kerumahnya.


***


Hari yang dijanjikan pun tiba. Langit pagi itu di penuhi dengan awan hitam. Tepat setelah salam sholat shubuh bocah-bocah itu memanggil dari luar.

“omah Aul!!”

“Iya-iya sebentar”

Setelah berdiskusi sebentar dengan teman sekamar sekaligus anak-anaknya. Dhafina dan Ghina ikut menemani. Dengan baju apa adanya bekas tidur tadi malam. Terlalu malas mengganti pakaian dan memoles wajah. Mereka memulai perjalanan mereka dari jalan setapak kecil depan rumah. Mengikuti aliran sungai kecil itu. Bocah-bocah itu berjalan bergerombol, mengitari Omah Aul. Sambil mendendangkan lagu-lagu  anak mereka berjalan riang mengelilingi desa.

Hamparan karpet hijau sejauh mata memandang. Aliran sungai kecil berdampingan dengan jalan setapak. Semalam turun hujan rupanya beberapa lubang di jalan digenangi air coklat bercampur tanah. Baru belasan meter berjalan mereka melihat pemandangan tak bisa di dam aliran sungai. Seorang pria tua dengan santainya jongkok disana membayar setoran rutinnya. Dan lelaki tua itu dengan santainya menatap jalan. Mereka bertiga saling melempar pandangan bingung harus bagaimana.

“Pura-pura nggak liat aja” Mereka pun akhirnya memutuskan seperti itu.
Setelah di telusuri lewat wawancara dadakan kepada bocah-bocah itu. Warga desa ini memang punya kebiasaan setor harian di aliran sungai kecil. Tak hanya yang rumahnya berada di pinggiran kali kecil itu. Bahkah ada yang rela datang jauh-jauh demi melaksanakan kewajibannya.

Tak terasa kini mereka menginjak jalanan beraspal. Namun jalanan yang berlubah cukup besar cukup mengganggu. Was-was saat ada kendaraan lewat, takut kecipratan. Maklum stok baju sudah menipis. Meskipun tak banyak peluh mulai merembes dari pori-pori kulit mereka.

4 anak perempuan yang dengan pakaian kembar tapi tak sama berjalan berjejer di barisan paling depan. Lagi-lagi mereka kompak membuka jaketnya, merasa kepanasan sepertinya. Dan lagi-lagi 3 orang dewasa itu kembali terkejut melihat tulisan di punggung 4 bocah itu.

“Eh ciyee kok kalian kompakan sih kayak, gilrband korea aja bajunya” Ke-4 bocah itu hanya cengar-cengir tanpa komentar.

“itu di belakangnya tulisannya beda-beda, dipilihin?”

“nggak kok kita milih sendiri”

“kalian maksud tulisan dipunggung kalian nggak?” Mereka hanya cengar-cengir entah apa maksudnya. Malu karna tak tahu, atau sebaliknya.

Ke-3 orang dewasa itu mengelus dada. Bocah-bocah SD jaman sekarang cepat puber ternyata. Dan sepertinya mereka juga sudah punya tambatan hati masing-masing. Meskipun hanya dalam status ‘ledek-ledekan’. Bahkan salah satu dari mereka keceplosan berbicara pernah melihat film dewasa.

Masa kecil yang penuh kepolosan dan rasa penasaran tersalurkan pada hal yang salah. Zaman telah berubah. Entah siapa yang harus disalahkan, pendidikan? Tontonan tv? Orangtua? Lingkungan?. Takkan ada habisnya jika saling menyalahkan. Sebagai generasi peneruh bangsa itu adalah tugas berat kita untuk meluruskan semuanya.

~to be continue~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keluarga Hura-hura sumkid (1/?)

Cerita dibawah ini terinspirasi oleh kehidupan 42 hari di kkn. Ku tulis supaya suatu hari nanti aku akan membacanya dengan senyum yang merekah lebar, mengingat masa-masa itu. Menulis kisah ini salah satu cara untuk mengabadikannya. 




Keluarga Hura-hura sumkid

Alkisah hidup keluarga besar nan bahagia di sebuah desa nun jauh disana. Untuk mencapai sana kau harus melewati panasnya aspal jalan pantura. Kemudian kau harus melewati jalanan berbatu dengan sawah yang luas di kanan dan kiri jalan. Desa Sumub Kidul lebih dikenal Sumkid warganya tak lebih dari 3ribu jiwa. Dengan pemasukan dana terbesar dari industry konveksinya yang sudah meraja lela. Baju, celana dan lainya produksi Sumkid sudah tersebar ke seluruh Indonesia di darat maupun bawah laut. Rumah keluarga Hura terletak persis disebelah rumah bu lurah. Ingat bu lurah bukan pak lurah. Halaman rumah keluarga Sumkid cukupluas. Biasa digunakan bocah-bocah sekitar rumah untuk bermain sepeda, petak umpet, layang-layang hingga berenang bila hujan tiba.

“Opah beliin es krim ya” Tunjuk bocah mungil itu sambil menujuk es krim. Sang lelaki tua disebelahnya hanya tersenyum simpul sambil menggangguk.

“Udah ambil aja semua Yuyun yang mau, kebetulan Opah mau mecahin uang” Bocah itu langsung sumringah. Bergegas ia meraup banyak es krim dan beberapa snack favoritnya.

“Udah bu berapa ya?”

“semuanya 585.518.915”

“Oke bentar ya bu”

Cranggg

Celengan ayam itu pecah menabrak lantai. Kepingan-kepingan uang itu berhamburan memenuhi lantai warung. Sang Cucu dan pemilik warung hanya bisa melengos kesal. Beneran mecahin toh rupannya.

Oke berlajut pada mahluk-mahluk yang berada dirumah. Diruang tamu tumpukan tissue menggunung, siapa lagi bila bukan Istri Opah, Omah Aul. Di usiannyayang sudah senja ini,hatinya begitu sensitive. Terlebih bila menyangkut anak sulungnya yang masih bujang. Padahal harusnya ia bahagia karna akhirnya Ojan anak kesayangannya menemukan gadis idamannya. Seperti memiliki son-complex sang Ibu tak rela anak kesayangannya itu memiliki tambatan hati. Ia hanya ingin anak sulungnya hanya mencintai ibunya seumur hidupnya.

“Udah lah mah, iklhasin Ojan mah biar dia bahagia” hibur Dhafina anak perempuannya. Sang Ibu mengangguk menguatkan hatinya.

“Haha, kamu kapan pulang? aku kangen” Ojan sang putra sulung tiba-tiba keluar dari kamar dengan air muka bahagia. Tanpa menggunakan atasan ia sibuk bervideo call dengan pujaan hati. Salah satu hobinya memang memamerkan otot-otot lengannya. 

“Hiks, HUWEEE” tangis sang Ibu kembali pecah. Dhafina mengelus dadanya pelan bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghibur Ibunya.

“Oh my god” Calvin sang putra bungsu kaget melihat tumpukan tisu yang memenuhi ruangan, sial ia piket hari ini.

Kita berpindah ke depan kamar mandi. Seorang wanita cantik yang masih lengkap dengan masker hitamnya mengambil handuk hendak mandi. Rencananya ia akan jalan-jalan ke kota bersama pacarnya hari ini. Jadi ia harus tampil cantik. Tapi sebelum handuk biru itu berada di genggamannya seseorang menahannya.

“ih kakak! ini handuk aku! aku juga mau mandi” Protes bocah bongsor dengan rambut ala Goo Jun Pyo.

“Adekk, punya kakak basah pinjem dulu lah”

“Ih nggak mau nanti handuknya jadi item kayak muka kakak”

“Eh tadi bilang apa?! berani ya ama kakak” Aksi rebutan handuk itu pun berlangsung sengit. Sang adik Oji tak mau kalah dari kakaknya Ratel. Ia juga harus cepat mandi lalu ke balai desa. Bukan untuk mengurus surat-surat. Bukan pula untuk membantu perangkat disana. Tapi ada film baru yang harus ia donlot. Numpang wifian. Aksi cakar-cakaran jambak-jambakan tak terelakan lagi. Beberapa property rumah ikut hancur karna perang saudara itu. Sang Ibu yang sedang meyiapkan makan siang di dapur tak bisa melerainya. Ia sedang sibuk dengan Ayam gorengnya. Selain itu ia juga agak malas mereka berdua memang selalu seperti itu.

“Celly itu tolong pisain mereka gih, Aunty lagi sibuk” Peritahnya pada keponakannya yang sedang sibuk mengulek bumbu.

“Haha merica bentuknya lucu ya bullet-bulet gitu” Entah apa yang salah dengan kabel komunikasi gadis cantik itu. Untuk informasi ia sedang jatuh cinta pada mas-mas penjual merica yang sering datang kerumah.

“Celly!” merasa tak sabar Auntynya mengguncang bahu gadis itu.

“Eh kenapa budhe Ghina”

“Itu tolong pisahin mereka”

“ih nggak mau ah Budhe nanti aku ikutan lecet-lecet”

“Hemm yaudah, bangunin bapaknya tolong ya mereka kalo ama bapaknya nurut soalnya”

“Loh kok aku?!”

“Aunty sibuk”

Gadis itu pun menurut. Meskipun nalarnya tak bisa menerima. Budhe dan Pakhenya tak pernah terlihat mesra meskipun mereka suami istri. Berbeda dengan Opahnya yang selalu perhatian pada Omahnya. meskipun sang omah hanya bisa melihat anak sulungnya Ojan. Seandainya gadis itu juga punya Ayah, seperti apa ya ayahnya itu. Apa ayahnya perhatian dan selalu mesra dengan ibunya Dhafina. Sayangnya Ia dan adiknya lahir berkat keberuntungan sang ibu. Saat membeli snack yang ada gosokannya. Ibunya mendaatkan anak yang cantik jelita. Tak berselang waktu lama dengan cara yang sama gadis itu memiliki seorang adik.

Seonggok mahluk tergeletak di kasur hijau diruang tengah. Lelaki kurus itu berbaring tak bergerak. Dengan pose tidur yang sangat tidak keren sukses membuat seisi kasur berantakan. Bantal-bantalnya merjatuhan dilantai.

“Pakdhe bangunnn!!” Lelaki itu tak merespon. Hanya suara dengkuran menandakan tidurnya lelap.

“Pakdhe!!” gadis itu tak sabar mengguncang-guncang tubuh Pakdhenya.

“PAKDHE AZIZZZ!!” Merasa tak sabar gadis itu memakai toa yang dipinjam dari pak RT. Tapi sayangnya lelaki itu masih tak merespon. Sebagai mahluk nocturnal pakdhenya itu cukup ajaib. Tapi jangan salah bila sudah bangun pakdhenya bisa menjadi sangat produktif. Hal apapun bisa dilakukan olehnya. Dan lelaki ini adalah lelaki yang bisa diandalkan dikeluarga ini selain sang anak sulung.

Kretekkkretekk

Suara retakan tembok itu terdengar dengan jelasnya. Perang saudara itu ternyata masih berlangsung sengit membuat tembok penghubung kamar depan retak. Celly hanya bisa memijat-mijat pelipisnya. Keluarga Pakdhenya memang benar-benar ajaib.

Inilah awal dari keluarga aneh bin ajaib, keluarga Hura-Hura Sumkid.

~to be continue~

Tulisan ini juga ku buat buat challenge diri buat nuli 30hari penuh
Semangat!!
#NulisRandom2017 #Day2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS